Oleh: Budi Setiawan
ADA satu kejadian kecil tiba-tiba jadi besar. Bukan karena dramanya, tapi karena tafsirnya. Anies Baswedan yang sedang makan di warung soto di Karanganyar, lalu mengajak berfoto dengan beberapa orang yang belakangan ketahuan dua diantaranya adalah intel. Selesai? Harusnya sih begitu. Tapi di negeri kita, tidak ada yang benar-benar selesai kalau sudah masuk wilayah persepsi netizen yang viral.
Publik netizen langsung ramai. Bukan marah. Bukan takut. Tapi senyum-senyum sendiri. Seolah melihat kejadian itu seraya berkata, “Nah, ketahuan dia intel.”
Lucu ya. Yang mestinya rahasia justru sering terlihat. Yang terlihat malah dianggap paling rahasia.
Kita ini memang bangsa yang kreatif. Sampai-sampai untuk fenomena seperti ini pun kita memakluminya sebagai kerjaan ala “Intel Melayu”. Sebuah sebutan satir untuk aparat yang, maaf, kadang terlalu gampang dikenali. Mulai dari rambutnya, gayanya, wajahnya hingga handy-talky -nya tiba-tiba bersuara karena lupa menurunkan volumenya. Ingin terlihat rahasia, tapi mencolok…
Tentu saja istilah “intel Melayu” ini bukan soal suku. Ini soal gaya. Soal kesan. Soal bagaimana publik membaca bahasa tubuh aparat (negara) di ruang-ruang biasa: warung, kampus, diskusi, bahkan pengajian. Aparat negara hadir. Kadang perlu, kadang terasa berlebihan. Tapi sering kali hadir dengan cara yang justru membuat orang berbisik pelan, “Ssst…Itu kayaknya intel.”
Anehya, bisikan di ruang itu tidak diikuti kepanikan. Tidak ada yang bubar. Tidak ada yang lari. Orang tetap makan. Tetap ngobrol. Paling banter nambah satu kalimat, “Hati-hati ya ngomongnya.” Lalu lanjut lagi seperti biasa, tanpa minta off the record.
Yaaah, gimana lagi? Kita ini, rupanya, sudah lama hidup berdampingan dengan rasa diawasi. Bukan dalam bentuk teror intelejen yang menakutkan, tapi seperti suara kipas angin di langit-langit. Ada (aparatnya). Terasa (kehadirannya). Tapi lama-lama mereka dianggap bagian dari suasana.
Di situlah letak ironinya. Pemantaun rahasia — atau sekadar dugaan pengawasan — yang seharusnya menjadi hal serius, pelan-pelan berubah jadi bahan candaan. Kita menertawakan apa yang sebenarnya membuat kita kurang nyaman. Bukan karena tidak peduli, tapi karena mungkin itu cara paling waras bagi publik kita untuk tetap hidup normal.
Tapi jangan salah. Di balik tawa itu selalu ada kesadaran. Publik tahu ada mata intelejen yang melihat. Intelejen negara pun tahu publik sadar kehadirannya. Hubungan ini jadi semacam sandiwara sunyi: tidak diakui terang-terangan, tapi dipahami bersama.
“Aku tahu kamu intel,” kata warga.
“Kamu tahu aku tahu,” itu balasan sang intel.
Lalu? Ya sudah. kita makan terus foto bareng saja!
Masalahnya, kalau semua ini terlalu dianggap biasa, kita bisa lupa bertanya. Mana pengamanan yang wajar. Mana pengawasan yang kebablasan. Mana kehadiran negara yang melindungi. Mana yang sekadar ingin tahu terlalu banyak.
Satire tentang “Intel Melayu” ini mungkin membuat kita tertawa kecil. Tapi ia juga mengingatkan dengan cara halus: kewaspadaan publik jangan sampai mati hanya karena dibungkus lelucon.
Intel (negara) boleh hadir. Tapi warga tetap berhak merasa lapang. Dan, kalau suatu hari kita berhenti bercanda soal ini, mungkin justru saat itulah kita benar-benar mulai was-was. Seperti kejadian yang dialami komika Pandji Pragiwaksono lewat “Mens rea“-nya, yang awalnya bercanda berujung was-was ke mana-mana…*
*Budi Setiawan, pemerhati sosial dan politik alumnus FISIP Universitas Padjajaran Bandung, mantan jurnalis senior ibukota.


































Comments